MEDIA DEMOKRASI, Palangka Raya - Kisah perjuangan Iber Djamal (80 tahun) untuk menyelamatkan hutan adat Pulau Barasak di Desa Pilang Pulau Pisau, Kalimantan Tengah, difilmkan oleh sutradarai Arfan Sabran dan diproduseri Gita Fara dengan judul Bara (The Flame).
Film ini telah tayang di Vision du Reel Film Festival di Swiss pada April 2021, DMZ International Documentary Film Festival di Korea pada September 2021, BIFED Ecology Film Festival di Turki pada Oktober 2021, dan Jogja NETPAC Asian Film Festival pada November 2021.
Selanjutnya, film dokumenter ini juga akan tayang perdana di Singapore International Film Festival pada Desember 2021 nanti. Film The Flame juga berhasil meraih nominasi Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori film dokumenter panjang terbaik.
Sedangkan di Kota Palangka Raya, secara ekslusif ditayangkan di XXI Palangka Raya Mal (Palma), Rabu (1/12/2021), dihadiri langsung pemeran utama Bue Iber dan diisi bincang-bincang ringan dengan Arie Rompas, yang merupakan Team Leader Campaign Green Peace Indonesia, bersama dengan sutradara, produser dan sinematografer.
Film dokumenter produksi bersama Abimata Group, Cineria Film, RM Cine Makassar, dan Aljazeera Documentary Channel berkolaborasi dengan Yayasan Dian Sastrowardoyo dan sejauh mata memandang dalam upaya mengedukasi masyarakat Indonesia untuk ikut melestarikan hutan adat di Kalimantan.

Iber mengaku bersyukur film “The Flame” bisa tayang di berbagai festival film dan ditonton bukan hanya oleh masyarakat Indonesia tapi juga dari negara-negara lain. Hal ini tak lepas dari campurtangan sutradara Arfan dan prosedur Gita bersama seluruh tim telah membantu perjuangannya untuk memperoleh hak waris hutan adat di Kalimantan.
Sebab, baginya masyarakat adat, hutan merupakan jantung dan paru-paru kehidupan, yang merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur hingga memiliki peran penting untuk keberadaan ekosistem tumbuhan dan binatang yang hidup saling berdampingan.
"Saya sangat berharap besar kepada penerus saya dan generasi muda di Indonesia untuk mulai membantu perjuangan kami, karena hutan adat adalah identitas kita bersama,"ungkap Iber.
Sutradara Arfan mengatakan, The Flame digarap dengan konsep dan alur cerita yang intim dalam memperlihatkan perjuangan penduduk asli Kalimantan untuk melindungi warisannya, dipadukan dengan sejarah dan investigasi tentang bagaimana proses deforestasi yang berlebihan di Indonesia telah menciptakan dampak dan kerugian nyata bagi seluruh wilayah di hutan Kalimantan.
Seperti judulnya “The Flame” atau Bara, melalui film ini, Arfan ingin semua ikut membara dalam menyuarakan keresahan ketika kita melihat masalah isu krisis iklim dan lingkungan di Indonesia, karena film ini tak hanya menceritakan tentang perjuangan nyata Iber Djamal dalam mempertahankan hutan adatnya tapi juga permasalahan lingkungan hidup di Indonesia yang semakin kritis.
"Kami ingin memperlihatkan semangat Pak Iber dalam mempertahankan hutan adat walaupun tidak mendapatkan dukungan penuh dari pihak keluarga maupun warga sekitar. Harapan kami, film dokumenter ini dapat membuka mata masyarakat dan menumbuhkan semangat mereka untuk mulai berinisiatif melindungi dan melestarikan hutan adat di Indonesia,"ujarnya.
Harapan yang sama juga disematkan Produser Gita, dengan adanya kolaborasi film dokumenter “The Flame” bersama Yayasan Dian Sastrowardoyo dan sejauh mata memandang dapat membantu mempercepat dan memperluas edukasi yang akan dilakukana di berbagai wilayah Indonesia terkait isu lingkungan hidup, terutama hutan adat yang kian punah.
Yayasan Dian Sastrowardoyo (YDS) sebagai organisasi nirlaba dan Sejauh Mata Memandang (SMM) sebagai label tekstil yang memiliki perhatian tinggi pada isu lingkungan hidup. Keduanya pun memiliki visi dan misi yang sama dengan filmmakers “The Flame” dalam mengatasi isu-isu lingkungan, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami arti krisis lingkungan hidup dan iklim yang semakin kritis. Dengan pemikiran ini, ketiganya berkolaborasi melalui film sebagai alat komunikasi untuk melakukan edukasi terhadap berbagai lapisan masyarakat mengenai pentingnya isu ini.

Barasak merupakan kawasan hutan terakhir di Desa Pilang, Kalimantan Tengah, setelah yang lainnya mengalami kebakaran dan diprivatisasi beberapa perusahaan. Iber mencoba menempuh jalan legal terbaik untuk melindungi hutan dengan berupaya mendapatkan sertifikat hutan adat yang sah untuk sisa hutan di wilayahnya. Tapi keluarga dan masyarakat desanya pikir, ia terlalu tua untuk melawan.
Dengan film dokumenter ini akan mengedukasi bahwa masalah lingkungan hidup, deforestasi hutan, dan perubahan iklim ekstrim itu adalah masalah serius, sehingga kita perlu mencegahnya dengan melakukan tindakan nyata. Sayangnya, banyak pihak yang tahu namun belum banyak yang peduli.
Bara “The Flame”, adalah salah satu contoh alat edukasi yang sangat efektif dan membantu masyarakat untuk mengubah perilaku atau bertindak lebih lanjut hingga menjadi bagian dari solusi, mulai dari mengajarkan diri sendiri dan keluarga mengenai pentingnya arti lingkungan hidup dan melindungi hutan Indonesia. (TVA)
Jalan G Obos IX No. 26 Kota Palangka Raya
081351921771
mediademokrasi@gmail.com
Copyright © 2020 Media Demokrasi All rights reserved. | Redaksi | Pedoman Media Cyber | Disclimer