Satu Tahun Shalahuddin–Felix, GASPOL 11.12 Jadi Kompas Pembangunan Barito Utara

MEDIA DEMOKRASI, MUARA TEWEH — Tepat satu tahun pemerintahan H. Shalahuddin dan Felix Sonadie Y. Tingan berjalan, Kabupaten Barito Utara memasuki fase penting dalam perjalanan pembangunan lima tahun ke depan.

Sejak dilantik pada Jumat malam, 10 Oktober 2025 oleh Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, pasangan tersebut membawa mandat untuk menjalankan pemerintahan Kabupaten Barito Utara periode 2025–2030.

Kini, satu tahun telah berlalu.

Waktu tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana visi pemerintahan mulai diterjemahkan menjadi kebijakan dan program.

Di antara berbagai agenda yang dibangun, nama GASPOL 11.12 — Gerak Akselerasi Strategis Pembangunan Optimal menjadi salah satu konsep yang paling menonjol.

GASPOL 11.12 dirancang dengan menggabungkan 11 program unggulan dan 12 program prioritas sebagai instrumen untuk mempercepat pembangunan daerah.

Bagi Bupati Barito Utara H. Shalahuddin, percepatan pembangunan tidak dapat hanya dilakukan dengan mengandalkan anggaran. Mesin utama pembangunan tetap berada pada kualitas birokrasi dan kemampuan seluruh perangkat daerah bekerja secara bersama-sama.

“Pembangunan harus dimulai dari birokrasi. Jika birokrasi solid, profesional, dan berjalan baik, maka roda pemerintahan dan pembangunan juga akan berjalan dengan baik,” ujar Shalahuddin.

Pernyataan itu menjadi salah satu gambaran mengenai filosofi kerja yang ingin dibangun dalam pemerintahan Shalahuddin–Felix.

Bukan Sekadar Nama, tetapi Arah Kerja, GASPOL 11.12 bukan sekadar nama program.

Di dalamnya terdapat gagasan untuk mempercepat kerja pemerintahan melalui koordinasi, perencanaan yang lebih matang dan pelaksanaan program yang lebih efektif.

Angka 11 dan 12 menjadi kerangka untuk menyatukan program unggulan dan prioritas pembangunan.

Tujuannya sederhana, tetapi sekaligus tidak ringan: seluruh program pemerintah harus bergerak menuju satu tujuan, yakni mewujudkan Barito Utara yang maju, tumbuh pesat dan sejahtera.

Konsep tersebut menempatkan sejumlah sektor sebagai prioritas, mulai dari pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, tata kelola pemerintahan, perlindungan sosial, pertanian, pemberdayaan masyarakat hingga penciptaan lapangan kerja.

Dengan demikian, pembangunan tidak hanya dilihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan pemerintah meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Mendengar Masyarakat Sebelum Menentukan Prioritas

Salah satu dasar yang dikedepankan dalam penyusunan program adalah aspirasi masyarakat.

Shalahuddin bersama tim sebelumnya melakukan kunjungan dan pemetaan ke berbagai wilayah.

Sebanyak 93 desa dan 10 kelurahan menjadi bagian dari proses menyerap aspirasi sekaligus melihat secara langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dari lapangan, pemerintah mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan yang berbeda-beda di setiap wilayah.

Ada masyarakat yang membutuhkan akses jalan dan jembatan yang lebih baik. Ada wilayah yang membutuhkan peningkatan pelayanan kesehatan. Ada pula persoalan pendidikan, ekonomi, pertanian dan kesempatan kerja.

Pendekatan turun ke lapangan tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan dalam menyusun agenda pembangunan.

Dalam program Speak After Lunch yang disiarkan iNews pada 26 Januari 2026, Shalahuddin menyampaikan bahwa persoalan yang ditemukan saat turun ke lapangan diupayakan untuk dijawab melalui program-program yang telah dirumuskan.

Hal itu menunjukkan bahwa pembangunan yang ingin didorong pemerintah tidak semata-mata bersumber dari perencanaan birokrasi, tetapi juga dari persoalan nyata yang dirasakan masyarakat.

Birokrasi Harus Bergerak Lebih Cepat

Kata “akselerasi” dalam GASPOL 11.12 membawa konsekuensi terhadap cara kerja pemerintahan. Program yang baik tidak akan memberikan hasil apabila proses perencanaannya lambat, koordinasi tidak berjalan dan pelaksanaannya terlambat.

Karena itu, sejak awal pemerintahan, percepatan perencanaan dan penetapan program menjadi perhatian. Pemerintah berupaya agar kegiatan pembangunan dapat dimulai lebih awal dan tidak menumpuk pada penghujung tahun anggaran.

Koordinasi antar-OPD menjadi penting karena persoalan pembangunan tidak berdiri sendiri.

Persoalan stunting, misalnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Demikian pula persoalan kesempatan kerja tidak hanya menjadi urusan satu perangkat daerah.

Diperlukan kerja lintas sektor agar program pemerintah menghasilkan dampak yang lebih besar.

Jalan, Jembatan dan Konektivitas Wilayah

Bagi daerah dengan wilayah yang luas seperti Barito Utara, konektivitas merupakan kebutuhan mendasar.

Jalan dan jembatan menjadi urat nadi yang menghubungkan masyarakat dengan pusat pelayanan, pasar, sekolah, fasilitas kesehatan dan pusat-pusat ekonomi.

Karena itu, pembangunan infrastruktur tetap menjadi bagian penting dari agenda pemerintahan.

Namun, pembangunan infrastruktur diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fisik.

Jalan yang baik harus mampu membuka akses ekonomi. Jembatan harus memperpendek jarak masyarakat. Infrastruktur harus mendorong produktivitas dan memperkuat konektivitas antarwilayah.

Di sinilah pembangunan fisik harus bertemu dengan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Membangun Manusia, Bukan Hanya Infrastruktur

Pemerintahan Shalahuddin–Felix juga menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai bagian penting dari pembangunan.

Pendidikan dipandang sebagai investasi untuk menyiapkan generasi Barito Utara menghadapi perubahan dan kebutuhan pembangunan di masa depan.

Peningkatan kapasitas aparatur juga menjadi perhatian melalui pengembangan kompetensi, termasuk perhatian terhadap beasiswa ASN.

Sementara bidang kesehatan diarahkan pada peningkatan pelayanan masyarakat dan percepatan penurunan stunting.

Jika pembangunan ingin menghasilkan daerah yang sejahtera, maka kualitas manusia harus menjadi bagian utama dari kebijakan.

Masyarakat membutuhkan akses layanan kesehatan yang lebih baik, anak-anak membutuhkan pendidikan berkualitas dan generasi muda membutuhkan peluang untuk berkembang.

Putra Daerah Harus Menjadi Bagian dari Pembangunan

Agenda pembangunan juga menyentuh pemberdayaan putra daerah.

Pembangunan daerah idealnya tidak hanya menghadirkan proyek fisik, tetapi juga menciptakan ruang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Karena itu, sektor pertanian, pemberdayaan masyarakat dan kesempatan kerja menjadi bagian dari perhatian pemerintah.

Putra daerah diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi menjadi pelaku yang memperoleh manfaat dan kesempatan dari pertumbuhan ekonomi daerah.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena keberhasilan pembangunan pada akhirnya harus tercermin pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Melanjutkan yang Baik, Membenahi yang Belum Optimal

Satu tahun pertama juga menjadi fase konsolidasi.

Shalahuddin menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan tidak berarti seluruh program pemerintahan sebelumnya harus dihentikan.

Kebijakan yang dinilai baik akan dilanjutkan. Sementara hal-hal yang masih kurang akan diperbaiki.

Pendekatan tersebut menjadi penting untuk menjaga kesinambungan pembangunan.

Sebab pembangunan Barito Utara merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi.

Sebuah jalan tidak selesai hanya dengan perencanaan. Sebuah sekolah tidak cukup hanya dibangun tanpa peningkatan kualitas pendidikan. Fasilitas kesehatan juga tidak akan optimal tanpa pelayanan yang baik.

Semua membutuhkan kesinambungan.

Tahun Kedua: Dari Konsep ke Pembuktian

Setelah satu tahun, tantangan terbesar pemerintahan Shalahuddin–Felix bukan lagi sekadar menyusun program.

Tantangan berikutnya adalah memastikan program tersebut menghasilkan perubahan.

GASPOL 11.12 kini memasuki fase yang lebih menentukan.

Masyarakat akan menilai apakah akselerasi benar-benar terjadi.

Apakah pembangunan infrastruktur semakin cepat?

Apakah konektivitas antarwilayah semakin baik?

Apakah pelayanan publik semakin responsif?

Apakah kualitas pendidikan meningkat?

Apakah pelayanan kesehatan semakin mudah dijangkau?

Apakah stunting dapat terus ditekan?

Apakah pertanian semakin produktif?

Apakah kesempatan kerja semakin terbuka?

Dan yang paling penting, apakah masyarakat merasakan adanya perubahan dalam kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan tersebut akan menjadi parameter yang jauh lebih penting daripada sekadar jumlah program yang berhasil dicatat dalam laporan pemerintahan.

Empat Tahun Berikutnya Menjadi Ruang Pembuktian

Satu tahun pertama pemerintahan Shalahuddin–Felix dapat dipandang sebagai fase meletakkan fondasi.

Birokrasi mulai diarahkan untuk bergerak lebih cepat. Program prioritas telah ditetapkan. Aspirasi masyarakat telah dipetakan. GASPOL 11.12 telah menjadi kerangka pembangunan.

Namun perjalanan masih panjang.

Empat tahun berikutnya akan menjadi ruang untuk membuktikan apakah seluruh konsep tersebut mampu menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Di Muara Teweh, satu tahun pemerintahan bukanlah garis akhir. Justru dari titik inilah ekspektasi masyarakat semakin besar.

GASPOL 11.12 telah menjadi kompas.

Kini, yang diperlukan adalah memastikan seluruh mesin pemerintahan bergerak menuju arah yang sama.

Bupati, wakil bupati, OPD, aparatur pemerintahan hingga pemerintahan desa memiliki peran dalam memastikan arah tersebut tidak berhenti sebagai konsep.

Karena ukuran keberhasilan pemerintahan pada akhirnya bukan seberapa sering sebuah program disebut, tetapi seberapa nyata manfaatnya dirasakan masyarakat.

Satu tahun Shalahuddin–Felix telah berlalu.

Fondasi telah dibangun, arah telah ditetapkan dan pekerjaan telah dimulai.

Kini, Barito Utara memasuki fase berikutnya: mengubah GASPOL 11.12 dari kompas kebijakan menjadi hasil pembangunan yang benar-benar terlihat dan dirasakan masyarakat.

Di situlah sesungguhnya pembuktian lima tahun kepemimpinan Shalahuddin–Felix akan berlangsung.

Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan, Program GASPOL Dorong Barito Utara Maju dan Masyarakat Sejahtera

Satu tahun kepemimpinan Bupati Barito Utara H Shalahuddin, ST., MT bersama Wakil Bupati Felix Sonadie Y. Tingan, A.Md, ditandai dengan pemaparan berbagai capaian pembangunan melalui program 11.22 GASPOL yang berlangsung di Gedung Balai Antang, Selasa (6/10/2026).

Paparan dalam kegiatan refleksi satu tahun kepemimpinan tersebut menunjukkan sejumlah program unggulan dan kegiatan prioritas yang tengah maupun telah dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Barito Utara.

Sebanyak 11 program unggulan menjadi bagian utama paparan, disertai 12 kegiatan prioritas Bupati dan Wakil Bupati. Fokusnya mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesehatan, infrastruktur, pelayanan publik, perekonomian serta penguatan tata kelola pemerintahan.

Salah satu program yang mendapat perhatian adalah SIP Pintar, yang terdiri dari SIP Pintar Optimal, SIP Pintar Juara dan SIP Pintar Peduli. Program tersebut menyasar peserta didik aktif, siswa berprestasi serta peserta didik yang memenuhi kriteria afirmasi sosial dan ekonomi.

Pada sektor infrastruktur, Pemkab Barito Utara memaparkan pembangunan tiga jembatan strategis, pembangunan dan peningkatan ruas jalan, pelebaran jalan dalam Kota Muara Teweh serta pembangunan Water Front City. Pelebaran ruas Jalan Yetro Sinseng–Temenggung Surapati misalnya, dirancang meningkatkan lebar jalan dari kondisi awal 10,5 meter menjadi 21 meter.

Pembangunan fasilitas air bersih juga menjadi perhatian. Melalui peningkatan SPAM IKK Jingah, kapasitas pelayanan ditargetkan meningkat dari 1.262 sambungan rumah menjadi sekitar 6.262 sambungan rumah, sekaligus memperluas jaringan perpipaan dan interkoneksi menuju sejumlah wilayah.

Di bidang kesehatan, rehabilitasi RSUD Muara Teweh diarahkan untuk mempercepat peningkatan standar rumah sakit dari Kelas C menjadi Kelas B dan menjadikannya sebagai rumah sakit rujukan regional di wilayah DAS Barito. Program pendukung lainnya mencakup kebijakan parkir gratis, makanan bagi pendamping pasien dan bantuan uang tunai.

Sementara itu, transformasi budaya kerja ASN dilakukan melalui penguatan disiplin dan kepemimpinan. Bupati memimpin apel pagi secara bergiliran di setiap perangkat daerah untuk memastikan kesiapan mental, membangun integritas dan memberikan motivasi kerja.

Capaian lainnya yang dipaparkan adalah keberhasilan Barito Utara meraih peringkat pertama regional Kalimantan dalam penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yang juga mendapat insentif fiskal sebesar Rp3 miliar dari pemerintah pusat.

Selain itu juga selama satu tahun kepemimpinan Bupati H Shalahuddin dan Wakil Bupati  Wakil Bupati Felix Sonadie Y Tingan, mencatat peningkatan dengan melaksanakan apel pagi di setiap dinas, Transformasi Budaya Kerja ASN, Penguatan Disiplin dan Kepemimpinan.

Kemudian Car Free Day (CFD) Muara Teweh yang dilaksanakan setiap hari Minggu, terbaik i Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Juara Umum Festival Budaya Isen Mulang, Batara Expo 2026 dan pemenuhan 6 standar pelayanan minimal posyandu.

Paparan refleksi satu tahun ini menjadi gambaran evaluasi sekaligus arah keberlanjutan pembangunan Barito Utara melalui semangat GASPOL, dengan sasaran mendorong Barito Utara semakin maju dan masyarakat semakin sejahtera.

Melalui refleksi satu tahun tersebut, Pemkab Barito Utara menegaskan komitmen untuk melanjutkan berbagai program dan kegiatan prioritas yang telah berjalan. Semangat tersebut dirangkum dalam pesan “Sebelas Dua Belas Kita Melaju, Barito Utara Maju, Masyarakat Sejahtera.”(*)

Redaksi
25

Featured News

Official Support

Jalan G Obos IX No. 26 Kota Palangka Raya

081351921771

mediademokrasi@gmail.com

Follow Us
Foto Pilihan

Copyright © 2020 Media Demokrasi All rights reserved. | Redaksi | Pedoman Media Cyber | Disclimer